Warga Rancaekek Buat Perahu dari 600 Botol Bekas Air Mineral

Guna mendukung misi Bupati Bandung 2020 bebas sampah, Pemerintahan Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung hingga kini terus berinovasi dalam penanganan dan pemanfaatan sampah organik maupun anorganik. Pemerintah Kecamatan Rancaekek bekerja sama dengan aparatur desa se-Kecamatan Rancaekek untuk mengolah sampah tersebut. 

Menurut pantauan wartawan Galamedia, Engkos Kosasih, warga Rancaekek  tengah memperlihatkan proses pengelolaan sampah anorganik menjadi ekobrik atau dimasukkan ke dalam bekas botol air mineral dalam upaya mengurangi penumpukan dan ceceran sampah. Sedangkan sampah organik yang membusuk digunakan untuk pengurai ternak magot atau ulat untuk pakan ikan lele, ayam, bebek, dan pakan burung. 

Camat Rancaekek Baban Banjar menyebutkan, dalam upaya mendukung misi Bupati Bandung 2020 bebas sampah di Kabupaten Bandung, pihaknya bersama aparatur kecamatan, desa dan pegiat lingkungan di Kecamatan Rancaekek berinovasi dalam pengelolaan sampah. Inovasi dalam pengolahan sampah dan lingkungan ini melibatkan Satgas Rancaekek Bagus. Tujuan akhirnya adalah untuk mengendalikan banjir.

“Camat kerja sama dengan saber pengelolaan sampah dan rekan-rekan lainnya, melakukan inovasi dalam pengelolaan sampah. Bahkan, inovasi yang dilaksanakan warga di Desa Rancaekek Kulon belum ada di wilayah lainnya. Di antaranya, sampah organik dimanfaatkan untuk ternak magot. Sampah organik yang dihasilkan rumah tangga dimasukkan ke dalam marumba (magot rumah mandiri), nantinya sampah itu menghasilkan magot,” papar Baban, Rabu 3 April 2019.

Baban mengatakan, inovasi dalam pngelolaan sampah itu, saat ini sudah memperlihatkan karya nyatanya Deaa Rancaekek Kulon, Tegalsumedang, Rancaekek Kencana, Linggar dan desa lainnya. “Warga sudah memanfaatkan sampah anorganik atau sampah plastik menjadi kursi, pavingblok. Bahkan, kita juga punya target membuat perahu dari sisa sampah organik. Yaitu, membuat perahu dari 600 botol bekas air mineral berukuran 1,5 liter. Masing-masing botol sudah terisi sampah plastik yang tidak terjual,” ucapnya. 

Ia mengatakan, pembuatan perahu dari sampah anorganik itu dalam upaya mengurangi sampah plastik.  Bahkan sampah plastik dapat digunakan kerajinan yang memiliki nilai ekonomi. 

Pegiat lingkungan yang juga Tagana Kecamatan Rancaekek Asep Mustofa mengatakan,  jika pihaknya tengah berusaha untuk merealisasikan pemanfaatan sampah menjadi perahu yang terbuat dari bekas air botol mineral.

“Prosesnya, sampah plastik dimasukkan ke dalam bekas botol mineral berisi 1,5 mml air. Setelah botol itu terisi sampah plastik, tutupnyatetap dalam kondisi tertutup rapat. Sebanyak 600 botol bekas air mineral bisa membuat perahu. Perahu dari plastik ini, ringan dan bisa diangkat oleh dua orang. Berbeda dengan perahu yang terbuat dari piber atau karet cukup berat,” terangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: