Sekolah Berbayar Sampah di Bandung Barat

Di sekolah ini, para siswa diajarkan untuk bisa menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya dengan membersihkan, mengumpulkan, memilah, dan mengolah sampah.

Mereka pun diberi keterampilan bagaimana cara dalam mengolah eceng gondok menjadi berbagai kerajinan seperti tas, tempat tisu, tempat laptop, dan lain-lain. Eceng gondok yang sering dianggap sebagai tanaman pengganggu tersebut diperoleh dari Sungai Citarum di sekitar sekolah.

Menurut Edi, sekolah ini dibuka untuk tingkat TK dan SMP. Hal itu dilakukan untuk mengakomodasi kebutuhan warga sekitar lantaran lembaga pendidikan untuk kedua tingkatan tersebut masih minim.

“Kalau untuk SD, itu di sini sudah banyak sehingga kami hanya buka TK dan SMP. Soal kurikulum, kami sesuaikan antara kurikulum mandiri dan nasional,” ucapnya.

Guru Literasi Sekolah Alam Bening Saguling Edi Juharna menyebutkan, bahwa sekolah alam tersebut baru saja dibuka tahun ini. Sekolah ini bernaung di bawah Yayasan Bening Saguling milik Indra Darmawan yang didirikan didasari dengan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Menurutnya, sekolah di tepian Sungai Citarum bukan hanya diprioritaskan bagi warga sekitar, tetapi juga menerima warga dari luar daerah.

“Untuk warga sekitar, sekolah ini digratiskan. Mereka hanya perlu mengumpulkan sampah sebagai pengganti uang sekolah. Makanya, ini disebut sekolah berbayar sampah,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: