Penjual Bunga Tetap Bertahan dari Masa ke Masa di Desa Cihideung

Jika Anda memasuki kawasan Agrowisata Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Anda akan melihat suasana sekitar yang dipercantik dengan semarak bunga berwarna-warni. Ada beragam bunga potong dan hias berderet di sepanjang Jalan Terusan Sersan Bajuri itu.

Sekitar 80 persen warga Desa Cihideung memang merupakan petani bunga, di mana terdiri dari 30 persen petani bunga potong, dan 50 persen petani bunga hias. Berbagai bunga yang ditawarkan kerap menarik pengunjung dari berbagai daerah terutama pada akhir pekan. Tak heran, sebagian besar pemasukan mereka pun diperoleh dari hasil penjualan bunga.

Meskipun demikian, keberadaan wisata bunga di Desa Cihideung tidak mengalami perkembangan signifikan dari masa ke masa. Meski menjadi salah satu destinasi wisata, tidak ada lahan parkir yang luas untuk para pengunjung.

Kondisi tersebut mengakibatkan para pengunjung yang membawa kendaraan roda empat kesulitan memarkirkan kendaraan mereka. Akibatnya bahu jalan terpaksa dipakai untuk tempat parkir.

“Kalau untuk lahan parkir, saya sediakan sendiri karena kalau tidak, mobil diparkir di jalan,” ucap Tia Samanta (34) penjual bunga di Desa Cihideung.

Warga asli Desa Cihideung merintis usaha bunga hias bersama suaminya sejak 2004. Dari tahun ke tahun, usahanya mengalami memang kerap mengalami pasang surut. Tetapi, mereka tetap bertahan menggeluti usaha tersebut.

Menurutnya, faktor cuaca cukup memengaruhi usaha bunga hias meski tidak begitu signifikan.

“Kalau musim hujan biasanya memang tanaman lebih bagus, tapi pembeli sering banyak terkendala seperti kalau ada banjir di daerah lain. Itu cukup berpengaruh juga,” ujarnya.

Penjual bunga lainnya, Ani Sumarni (41) menyebutkan, penghasilannya saat ini dari penjualan bunga tak menentu dan cenderung menurun. Ia memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk menjajakan
berbagai bunga hias dan potong.

Harga bunga per polybag berkisar Rp 10.000-Rp 25.000. Meski banyak bunga yang ditawarkan, menurut dia, tak semua pengunjung tertarik untuk membelinya. “Sekarang tidak bisa ditentukan kapan ramai kapan sepi. Setiap bulan cenderung sama,” ujarnya.

Berbeda dengan beberapa tahun lalu, dia menambahkan, pengunjung dari luar kota kerap memesan bunga ke tempatnya dalam jumlah besar. Pemesan bunga berasal dari Jakarta, Tangerang, Cirebon, dan sebagian daerah Jawa Tengah.

Ketua Gapoktan Bunga Hias Cihideung, Adil Hendra memanh membenarkan, usaha penjualan bunga di Cihideung mengalami pasang surut. Bahkan, ada sebagian lahan di desa ini yang sekarang telah beralih fungsi menjadi bangunan.

Tetapi, menurutnya, usaha bunga hias sekarang telah merambah ke desa-desa di sekitar Cihideung. Tren pembeli juga berubah dari yang semula kebanyakan untuk pribadi, sekarang justru untuk dijual kembali.

“Makanya pada hari-hari biasa, rata-rata pembeli yang datang itu dari luar daerah, seperti daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Biasanya, itu untuk dijual kembali,” terangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: