Pasar Ciwastra Bandung Jadi Percontohan Pengolahan Sampah Organik

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung saat ini tengah menerapkan proyek percontohan di Pasar Ciwastra melalui pengolahan sampah organik sebagai bagian program Kurangi Pisahkan Manfaatkan (Kang Pisman) yang diluncurkan pada akhir 2018 lalu.

Pengolahan sampah organik di Pasar Ciwastra tersebut menggunakan metode Wadah Sisa Makanan atau Memasak (Wasima) yang hasilnya dijadikan pupuk cair, kompos, ekoenzim, pestisida hayati, hingga komposter dari sabut kelapa. Saat ini, timbunan sampah organik basah sudah bisa diolah sekitar 70 persen atau kurang lebih 407 kilogram per hari.

Salah satu relawan lingkungan sekaligus Pekerja Harian Lepas (PHL) DLHK Kota Bandung Tatang Sobarna menjadi inovator dan pengolah sampah organik di Pasar Ciwastra. Tatang menyebutkan, meski program pengolahan sampah organik baru berjalan Maret 2019, namun sudah banyak yang datang untuk belajar dan melakukan penelitian.

“Dari ITB sedang meneliti pupuk kompos yang diproduksi oleh magot (larva lalat hitam). Pernah juga dari United Nations Development Programs Perserikatan Bangsa Bangsa (UNDP PBB) bersama Kementerian Perindustrian dan Perdagangan. Dari Jepang juga ada yang pernah ke sini dua kali,” ungkapnya, dilansir dari laman detikcom di tempat pengolahan sampah organik Pasar Ciwastra.

Tak hanya Wasima, Tatang menciptakan inovasi berupa wadah khusus pengomposan sampah (komposter) dari sabut kelapa. Ia menilai, komposter dari sabut kelapa lebih bekerja maksimal dibanding yang berbahan plastik. Karena, serat sabut kelapa dapar menyerap amonia yang menimbulkan bau tak sedap.

Tatang menyampaikan, sampah organik seperti sayuran, buah-buahan dan hewan (sisa daging) akan dipilah sesuai kualitas baik buruknya. Lalu, sampah yang telah dipilah dipadatkan dengan cara dicacah sehingga kadar airnya menjadi 1:1 (1 kilogram sampah dengan kandungan 1 kilogram air).

“Jika sudah dicacah, sampah dimasukkan ke reaktor Wasima, nanti kandungan airnya akan menyusut. Air yang menyusut itu ditampung ke jeriken menggunakan selang dan menjadi pupuk cair. Sampah yang ada di dalam reaktor Wasima akan dijadikan pupuk kompos dan disimpan dulu di komposter,” terang Tatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: