Paramedis Meninggal Saat Tangani Corona, Perawat RSHS Berduka Pakai Pita Hitam

Saat ini ada sekitar sepuluh orang perawat Indonesia yang gugur dalam tugas kemanusiaan dalam menangani wabah virus Corona.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyampaikan duka sedalam-dalamnya bagi perawat yang meninggal dunia. Maka dari itu, para perawat di RSHS mengenakan pita hitam di baju dari 10 sampai dengan 15 April 2020.

“Ini bentuk penghormatan dan duka cita yang mendalam dari kami seluruh perawat kepada sepuluh perawat dan tenaga medis lainnya yang telah gugur dalam menjalankan tugas merawat pasien dengan COVID-19,” ujar Ketua Dewan Pengurus Komisariat PPNI RSHS Ganjar Wisnu Budiman, dilansir dari laman detikcom.

Ia menyebutkan, bahwa penolakan jenazah perawat yang tertular COVID-19 asal Semarang sangat memilukan.”Dan kemarin terjadi hal yang memilukan, jenazah rekan sejawat kita ditolak di tiga tempat pemakaman umum,” ungkapnya.

Ia mengajak seluruh perawat se-Indonesia untuk menggunakan pita hitam. “Dengan gerakan ini kami ingin masyarakat tahu dan peduli kepada kami, perawat, dokter, dan petugas kesehatan lainnya, bahwa perjuangan kami untuk melawan wabah COVID-19 ini sangat berat, sampai dengan nyawa taruhannya.” lanjutnya.

Beberapa perawat RSHS diinapkan di Unit Pelatihan Kesehatan (Upelkes) Dinas Kesehatan Kota Bandung dan beberapa di Hotel Preanger. Kata Ganjar, hal ini dilakukan karena ada oknum yang juga melakukan penolakan kepada para perawat di kos-kosannya.


“Ada juga oknum masyarakat yang memiliki tempat kos, tidak berkenan bila perawat yang merawat pasien COVID-19 berada dan tinggal di tempat kos nya,” terangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: