Momentum Pemulihan Kualitas Air, 30 Tahun Waduk Cirata

Puncak peringatan 30 Tahun Waduk Cirata merupakan momentum bagi PT Pembangkitan Jawa-Bali guna memperbaiki kualitas air di aliran Sungai Citarum, terutama di sekitar perairan waduk.

Setelah tiga dekade berlalu, berbagai aktivitas mengakibatkan penurunan kualitas air  dan hal tersebut harus ditertibkan. Menurut Direktur Utama PT PJB Iwan Agung Firstantara, kini pengelolaan PLTA Cirata dihadapkan pada persoalan penurunan kualitas air, yang telah mencapai level tiga. Menurutnya, ketika Waduk Cirata dibangun pada 1988 kualitas airnya berada di level satu, sehingga kerap digunakan masyarakat untuk minum.

“Ada tantangan baru bagi kami, yaitu kualitas air. Dulu waktu pertama kali dibangun, kualitasnya level satu. Orang itu kalau mau minum tinggal ambil air di waduk dan dimasak. Namun, sekarang kita lihat sendiri, ini levelnya sudah turun ke level tiga,” ujar Iwan, di sela acara peringatan 30 Tahun Waduk Cirata di Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Rabu, 21 November 2018.

Dia menambahkan, bahwa status mutu air memiliki empat golongan. Kualitas air pada level satu dapat dimanfaatkan untuk air minum, level dua untuk wisata, level tiga untuk perikanan dan peternakan, kemudian level empat untuk mengairi pertanian.

Kepala Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC) Wawan Darmawan menegaskan, kualitas air di perairan waduk tak dapat dibiarkan berada di level tiga. Pasalnya, rentan mengarah ke penurunan kualitas air menjadi level empat.

Pada daerah tertentu di aliran Citarum terdapat air dengan level empat, seperti di daerah yang banyak keramba jaring apung (KJA).

“Makanya, ke depan kami ingin tingkatkan kualitas airnya. Nah, (peringatan 30 tahun Waduk Cirata) inilah titik baliknya. Di sini kami ingin lakukan sesuatu yang lebih besar untuk Cirata. Ujung-ujungnya, itu untuk masa depan generasi muda di Parahyangan ini,” jelasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: