Kisah Kampung Tua di Kawasan Terluar Indonesia

“Ibarat seperti anak tiri. Kalau ada nasi basi, baru kami dikasih, malah kadang tidak sama sekali,” ucap Syahrul Nizam, salah seorang warga Kampung Tua Segeram, Kabupaten Natuna, Senin, 23 September 2019 lalu.

Kampung tua tersebut masih ada di induk pulau Kabupaten Natuna ini makin sepi. RW setempat, Faisal, menyebutkan, tercatat hanya ada sekitar 100 jiwa dalam 30 KK di Kampung Segeram.

Perubahan jumlah penduduk ini disaksikan seorang warga paling tua di Segeram, Syamsudin. “Dulu rumahnya banyak, sekarang Segeram, setelah saya kembali sekolah dari Kelarik, sepi,” ungkap kakek 73 tahun tersebut saat ditemui di kediamannya di Kampung Segeram, Kabupaten Natuna, Selasa, 24 September 2019.

Wakil Bupati Kabupaten Natuna Ngesti Yuni Suprapti bercerita, Segeram dipercaya sebagai asal-mula manusia menempati Kabupaten Natuna. “Berdasarkan literasi, pusat pemerintahan pertama (di Natuna) di sini,” ucapnya saat menyambangi Kampung Segeram, Rabu, 25 September 2019.

Persebaran penduduk yang terjadi dari masa ke masa membuat Segeram perlahan, namun pasti, tertinggal dari wilayah lain. Yang dalam sekian tahun ke belakang mengancam keberadaan Segeram adalah tidak adanya Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kampung tersebut.

“Setelah anak tamat SD, mereka biasanya terusin sekolah ke Sedanau, Kelarik, atau Ranai. Kadang dititip kalau punya saudara di sana, tapi banyaknya semua ikut pindah karena anak masih terlalu kecil buat hidup sendiri,” ungkap Faisal di musalah tua Kampung Segeram.

Dari tahun ke tahun, sekurang-kurangnya akan ada dua KK yang meninggalkan kampung tua di salah satu kawasan terluar Indonesia ini.

Untuk menyelamatkan kampung tua yang nasibnya tengah di ujung tanduk, salah seorang warga Segeram, Heru Diwan Arpas, merangkum setidaknya ada tiga kebutuhan mendesak, yakni pengadaan akses jalan, listrik, dan akses jaringan. Soal keberadaan SMP, masalah ini sudah teratasi lewat program Bangun Nusantara dari Bakti Nusantara 2019 yang telah rampung pada akhir tahun lalu. “Karenanya (ada SMP), lima KK berhasil dipertahankan di Segeram tahun lalu,” ujar Heru.

Sebelumnya, jika ingin keluar kampung dengan menempuh jalur darat, mereka harus melewati jalur terbuat dari satu papan. Fasilitas itu merupakan inisiatif warga Segeram, lantaran sepeda motor mereka sering terperosok di jalan berpasir.

“Sekarang sudah lebih lebar pun masih harus dibenahi karena jalan belum mulus, apalagi aspal. Kemarin saja ada tim BN yang mobilnya terperosok di jalan berpasir,” ucap Heru.

Sedangkan, untuk akses jaringan belum menemui titik awal obrolan, listrik yang dijanjikan pemerintah kabupaten (pemkab) tak kunjung terealisasi. Faisal mengatakan, selama ini sudah dua kali pihak PLN datang ke Segeram.

“Salah satunya sekitar tahun lalu. Pernah juga waktu saya belum jadi RW, ada semacam surat imbauan buat memangkas pohon dalam radius 2,5 meter dari jalan supaya bisa dipasang aliran listrik. Tapi, ya begitu-begitu saja,” terangnya.

Heru menyampaikan, bahwa ia pernah dihubungi Kepala Kecamatan Bunguran Barat bahwa Segeram akan mendapat bantuan listrik dari pihak perusahaan swasta asal Korea.

“Senang saya, warga juga senang. Saya tanyain terus, tidak dibalas. Sampai akhirnya saya mendesak, Pak Camat bilangnya tidak bisa karena Segeram bukan desa,” tuturnya.

Pada 2016, pemerintah pusat sudah memberi bantuan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Tapi, hanya bertahan selama enam bulan karena rusak tersambar petir. “Jadi, setelah dilihat, komponen penangkal petirnya tidak benar,” katanya.

Dikatakan, warga sudah lapor soal kerusakan, bahkan sampai ke kontraktor. Baru satu tahun kemudian direspons pihak pemkab yang mengatakan, lebih baik langsung beli baru ketimbang dibetulkan, lantaran biaya sama besar.

Sebagai solusi, akhirnya tiap rumah punya PLTS mini pada 2017. “Kami sebetulnya sudah ada semacam genset. Dari tahun 2000-an pakai itu (genset). 90 persen warga di sini punya (genset),” kata Faisal.

Dengan memanfaatkan dua sumber listrik tersebut, skemanya berupa pukul 18.00–22.00 memakai genset dengan rata-rata biaya solar Rp15 ribu per hari. “Selebihnya pakai PLTS tadi hanya untuk lampu tidur. Lama-kelamaan kan aki dari PLTS berkurang dayanya,” tambah Heru.

Ketiga kebutuhan dengan urgensi tinggi ini diharapkan masyarakat Segeram bisa ditangani serius, baik oleh pemerintah kabupaten maupun pusat. “Angin segar memang selalu ada. Tapi, sayangnya belum sampai-sampai ke Segeram,” pungkas Nizam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: