Kafe Walungan Ala Warga Babakan Irigasi Bandung

Kota Bandung memiliki ruang publik baru bernama ‘Kafe Walungan’. Fasilitas publik ini berupa penataan aliran sungai di Babakan Irigasi, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astana Anyar.

Ada puluhan anak dan beberapa orang tua selalu menikmati suasana di lokasi. Sebagian anak berenang sambil bercanda dengan yang lainnya.

Aliran air irigasi yang selama ini kotor dan berbau busuk, kini bersih hingga bisa dipakai berenang anak-anak.

‘Kafe Walungan’ sendiri lokasinya berada di samping Pasar Ulekan, membelah permukiman padat penduduk. Wali Kota Bandung Oded M Danial meresmikan secara langsung ruang publik tersebut pada, Sabtu (21/12/2019) lalu.

Salah seorang warga bernama Oheng (50) menyambut baik penataan yang dilakukan ini. Karena menurutnya selama ini aliran air di irigasi yang melintasi permukiman kotor dan kerap mengeluarkan bau tidak sedap.

“Dulu mah kotor terus bau, sekarang alhamdulillah (lebih baik),” ucap Oheng di lokasi.

Ia menyebut, keberadaan ruang publik ini bisa bermanfaat khususnya bagi anak-anak di lingkungannya. Mereka memiliki ruang bermain yang lebih layak dibanding sebelumnya.

“Alhamdulillah barudak (anak-anak) bisa main di sini. Daripada lari-lari di jalan. Ya alhamdulillah,” ucapnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung Didi Ruswandi menyatakan, penataan aliran irigasi bersumber dari APBD dengan total anggaran total sebesar Rp 550 juta. Anggaran itu terdiri dari pembangunan ‘Kafe Walungan’ Rp 195 juta dan taman sekitar Rp 146 juta.

Ia menjelaskan, bahwa aliran air yang kini jernih merupakan hasil penyaringan menggunakan biocord atau teknologi instalasi dari Jepang. Teknologi tersebut untuk mengubah air sungai kotor dan berbau agar lebih jernih.

Instalasi biorcord itu dipasang di bagian hulu sepanjang 15 meter. Lalu air sungai yang jernih mengaliri area buatan sepanjang 42 meter terdiri dari kolam cetek setinggi betis orang dewasa.

Sedangkan untuk konsepnya, dia mengungkapkan, memberi nama ‘Kafe Walungan’ karena hal itu sedang digandrungi di masyarakat. Makan di atas aliran air dinilai memiliki sensansi lebih.

Namun, kafe yang dimaksud bukan bentuk yang sesungguhnya. Lokasi tersebut bisa dimanfaatkan sebagai tempat nongkrong dan makan bagi warga sekitar dan lainnya.

“Jadi awalnya memang mau dibikin satu (seperti kafe). Tapi bingung nanti yang mengelola. Daripada ribut, jadi masyarakat yang belanja ke Pasar Ulekan bisa makan di situ (beli makan di luar makan di Kafe Walungan),” ujarnya.

Memgenai keberadaan sejumlah set kursi yang tidak ada, Didi menjelaskan, memang tak dipasang. Pemasangan kursi itu akan dijadwal sesuai kebutuhan.

“Jadi mau ngobrol (diskusi) lagi dengan Pak Camat. Apa Sabtu, Minggu. Atau seperti apa. Karena ternyata banyak sekali anak-anak yang berenang,” ungkap Didi.

Didi mengatakan, penataan aliran irigasi di lokasi tersebut rencananya akan dilanjutkan tahun depan. Pihaknya telah menyiapkan anggaran Rp 200 juta untuk mengeksekusi rencana tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: