Festival Budaya Nusantara Kembali Digelar

Tata kelola kehidupan masyarakat tradisi dapat dijadikan sharing information keilmuan bagi kehidupan di masa sekarang. Kegiatan mengenai kebudayaan saat ini menjadi tanggungjawab bersama seluruh elemen masyarakat sebagai pemiliknya.

Demikian ditegaskan Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sistem Informasi, dan Kerja sama Istitut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Suhendi Afryanto, dalam keterangan persnya, Jumat, 15 November 2019, terkait rencana Festival Budaya Nusantara yang diselenggarakan Prodi Antopologi Budaya ISBI Bandung.

“Selama ini keberadaan masyarakat tradisi atau dikenal dengan kampung adat masih dipandang sebelah mata, karena dianggap tidak mengikuti perkembangan jaman, namun dalam segala hal sebenarnya mereka lebih berbudaya ketimbang masyarakat perkotaan,” ungkap Suhendi dalam acara jumpa pers yang digelar di lobby Gedung Kesenian Sunan Ambu kampus ISBI Bandung Jalan Buah Baru 202.

Sebagai intitusi pendidikan seni budaya, menurut Suhendi, ISBI Bandung saat ini selalu memposisikan institusi adat di masyarakat sebagai sumber ilmu dan dijadikan sebagai sumber rujukan pembelajaran

“Implementasinya melalui dua arah, yakni untuk kepentingan penciptaan karya seni dan karya penelitian, karena hal tersebut ISBI Bandung terus bersinergi dengan kampung adat, yang beberapa diantaranya sudah menjadi wilayah binaan untuk kepentingan pengabdian masyarakat dosen dan mahasiswa,” ujar Suhendi.

Sedangkan, Ketua Prodi Antropologi Budaya ISBI Bandung, Sriati Dwiatmini menambahkan, bahwa secara kelembagaan, ISBI Bandung akan terus mendorong kegiatan yang berimplikasi pada pencapaian visi dan misi institusional. “Yaitu visi dan misi yang mengarah pada kegiatan konservasi, revitalisasi, rekonstruksi, serta inovasi,” ucap Sriati.

Setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh fakultas dan prodi menurut Sriati, meeupakan bentuk nyata dari implementasi institusionalnya. Seperti Festival Budaya Nusantara yang sudah dilaksanakan untuk ketigakalinya.

Pada Festival Budaya Nusantara ke 3 yang akan digelar Senin, 18 November 2019 nanti, akan melibatkan enam masyarakat adat dari Kampung Naga, Cireundeu, Cipta Gelar, Sinar Resmi, Cikondang, dan Kampung Dukuh.

Tak hanya ada berbagai kesenian tradisional yang mewakili keenam kampung adat nantinya akan diselenggarakan Seminar Pararel yang menyajikan 34 judul makalah dengan berbagai topik terkait upacara atau ritual, kesenian, pariwisata budaya, bahasa dan sastra, kearifan lokal, dan konservasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: