Bandung Masih Menjadi Barometer Musik

Menurut peta industri musik Indonesia, Bandung adalah salah satu barometer perkembangan musik. Memang tak dapat di­pungkiri, bahwa seniman musik bermunculan dari kota kembang ini. Begitu juga dengan adanya rentetan karya populer yang menjadi tolok ukur produktivitas para musisi.

Pengamat musik Buky Wikagoe mengungkakan, predikat Bandung sebagai salah satu kiblat musik muncul pada era 1970-an. Saat itu, Kota Kembang disandingkan de­ngan Malang dan Medan.

Jika ada musisi atau band yang “selamat” main di Kota Kembang, me­reka dapat menguasai panggung musik Indonesia. Penonton Bandung, lanjut Buky, memang dikenal kritis. Apalagi persaingan antarmusisi terutama di ranah musik rock sangat ketat.

“Dulu majalah musik Aktuil menyebut Bandung adalah barometer musik di Indonesia. Saya pribadi juga lebih senang menyebut barometer daripada Bandung kota musik. Soalnya, Bandung memang lumbungnya musisi dan karya yang berkualitas. Dulu itu musisi dari Bandung dan Surabaya saja sangat bersaing. Kalau tampil satu panggung, alat dan sound system-nya enggak mau bareng. Kalau sekarang situasinya lebih adem,” ujar Buky di Bandung, pada Kamis 7 Februari 2019.

Menurutnya, kini Bandung masih layak disebut sebagai barometer musik Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari produktivitas para musisinya. Tak hanya itu, selalu ada bintang baru yang muncul. Selera musik pendengarnya pun bisa dipertanggungjawabkan.

Elemen lain yang mendukung Kota Kembang sebagai barometer musik Indonesia ialah hidupnya radio dan berbagai kegiatan musik yang diadakan setiap minggu. Namun, Buky menambahkan, Parijs van Java tak pernah menjadi tuan rumah ­perhelatan musik besar atau festival musik berskala nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: