Kerajinan Gerabah Khas Bayat Klaten Jawa Tengah

Suarabandung.com – Gerabah merupakan perkakas yang terbuat dari tanah liat atau lempung yang dibentuk dengan berbagai model kemudian dibakar, setelah itu  dijadikanlah alat- alat yang berguna membantu keperluan kehidupan sehari – hari. Gerabah sendiri telah diperkirakan ada sejak zaman Manusia Purba, sebab pada beberapa penemuan di daerah situs bersejarah atau situs-situs arkeologi, telah ditemukan gerabah – gerabah kuno yang berfungsi sebagai perkakas atau alat bantu rumah tangga.

Nah, sebenarnya perabot memasak makanan yang menggunakan gerabah lebih terjamin kesehatannya dibanding memakai perabot dari bahan aluminium, stainless (panci,kuali,wajan, dll). Begitu juga wadah untuk menaruh makanan di piring yang dari gerabah dijamin tidak tercemar oleh kandungan bahan kimia yang berbahaya, seperti yang terdapat pada piring yang terbuat dari plastik, styrofoam, atau melamine.

Perabot memasak yang terbuat dari bahan tanah liat aman bagi kesehatan manusia karena proses pembuatannya tidak menggunakan sedikit pun bahan kimiawi dan tidak juga dicat. Warna cantik berkilau yang nampak pada gerabah tanah liat muncul dari hasil pembakaran gerabah tanah liat menggunakan kayu, rumput kering, daun atau sekam padi dalam yang suhu tinggi. Bahan dasar pembuatan gerabah hanya tanah liat dan air saja.

Gerabah Khas Bayat memiliki ciri khas yang berbeda jika dibandingkan dengan yang berasal dari daerah lain,diantarnya.

  • Menggunakan teknik putaran miring saat pembuatannya
  • Gerabah khas Bayat memiliki warna coklat polos, dan tidak menggunakan sentuhan warna-warni lainnya.
  • Gerabah khas Bayat memproduksi gerabah dengan pola batik. Beberapa vas bunga, atau seperangkat meja dan bangku, diberi sentuhan pola batik yang unik dan menarik sehingga kerajinan yang dihasilkan dapat merambah pasar internasional hingga ke Kanada, Spanyol, Jepang, dan juga Belanda. Gerabah yang di ekspor itu memang tak lepas dari nama besar gerabah Bayat, yang memang sudah terkenal dan terbukti banyak diminati oleh orang asing
  • Gerabah Bayat sendiri lebih bagus, berbahan dasar tanah dari pengunungan, sehingga lebih kuat dan tahan lama, itulah mengapa banyak orang yang mencari gerabah Bayat ini.
  • Desa yang menjadi sentra industri kerajinan gerabah dan keramik di Kota Bersinar ini, sudah berumur ratusan tahun silam, hingga kini usaha kerajinan gerabah masih bertahan. Aneka kerajinan gerabah dan keramik diantaranya, pot bunga, gentong, piring, dan peralatan rumah tangga lainnya. Harganya sangat terjangkau, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Guna mengikuti perkembangan jaman, para pengrajin di desa ini mulai melakukan berbagai inovasi baru untuk menghasilkan karya seni yang lebih baik.

Teknik putaran miring Nah, berbicara tentang teknik putaran miring merupakan salah satu unggulan cara pembuatan gerabah di perajin bayat . Teknik pembuatan gerabah dengan cetak miring ini ternyata sangat menarik perhatian dari  berbagai kalangan, termasuk seorang peneliti asal Jepang, yaitu Profesor Chitaru Kawasaki. Peneliti keramik Jepang ini sempat melakukan penelitian mengenai teknik cetakan miring Bayat. Saking menyukai teknik cetak miring ini, peneliti tersebut sempat memberikan bantuan pembangunan gedung Laboratorium Pusat Pelestarian Budaya Keramik Putaran Miring Melikan.

Teknik putaran miring ini hanya dapat dijumpai di dukuh Pagerjurang dan di desa Melikan secara keseluruhan sebagai pusat pembuatan gerabah. Teknik pembuatan gerabah disini sudah berjalan sejak masa Sunan Bayat, sekitar tahun seribu tujuh ratus.

Bahkan pengamat sejarah, mengungkapkan bahwa teknik miring pembuatan gerabah ini tak lepas dari nilai kebudayaaan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *